Ada Investor Besar Mau Masuk Bank Nobu, Apa Kabar Bank MNC?

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan asuransi Korea Selatan Hanwha Life Insurance telah setuju untuk mengakuisisi 40% saham PT Bank Nationalnobu Tbk milik Grup Lippo. (NOBU) atau Bank Nobu.

Mengutip JoongAng Daily dari Korea, perusahaan asuransi milik Grup Hanwha mengungkapkan rencana tersebut pada hari Rabu setelah menyetujuinya pada rapat dewan darurat pada hari Selasa.

Dengan langkah ini, Hanwha Life akan memperluas fokusnya saat ini pada layanan asuransi ke sektor perbankan di negara Asia Tenggara. Setelah pembelian selesai, Hanwha Life akan menjadi perusahaan asuransi pertama di Korea yang melakukan aktivitas perbankan di luar negeri.

Perjanjian ini akan diselesaikan setelah penandatanganan perjanjian formal dan persetujuan lembaga keuangan Korea dan Indonesia.

Pada bulan Maret tahun lalu, Hanwha Life dan anak perusahaannya Hanwha General Insurance mengakuisisi total 62,6% saham Lippo General Insurance. Hanwha bertujuan untuk memanfaatkan brand awareness Lippo Group di Indonesia untuk semakin memperkuat pijakannya di RI melalui kemitraan ini.

“Hanwha Life telah mempertahankan posisi kepemimpinan di pasar domestik melalui manajemen proaktif, namun mempercepat strategi global kami sangat penting untuk mengatasi kendala domestik dan memastikan pertumbuhan berkelanjutan,” kata Wakil Ketua dan CEO Hanwha Life Yeo Seung-joo. dikutip dari Korea JoongAng Daily, Jumat (26/4/2024).

Melalui investasi terbaru ini, Hanwha Life berharap Indonesia dapat menjadi “pusat utama dalam strategi kami untuk berekspansi ke pasar Asia Tenggara,” tambah Yeo.

Pada saat yang sama, Nobu Bank sedang dalam proses merger dengan MNC Group Bank PT Bank MNC International Tbk. (BABP). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dikabarkan mengumumkan pada Maret 2023 atau lebih dari setahun lalu bahwa dua bank milik dua konglomerat besar harus melakukan konsolidasi karena belum memenuhi kebutuhan modal inti sebesar Rp 3 triliun.

Dian Ediana Rae, Direktur Utama Pengawasan Perbankan OJK, sudah menargetkan selesainya merger kedua bank tersebut sebanyak lebih dari tiga kali. Terakhir, Dian menargetkan penyelesaian pada Juni mendatang.

“Saat ini masing-masing pemegang saham pengendali (PSP) akan terus melakukan komunikasi terkait rencana tersebut. Tentu akan memakan waktu yang lama untuk melaksanakan aksi korporasi ini, mengingat kompleksitas bisnisnya, mengingat kedua entitas tersebut merupakan bagian dari ekosistem konglomerat besar, seperti serta rencana pengembangan dan sinergi perbankan ke depan,” jelas Dian dalam keterangan tertulis yang dipublikasikan awal bulan, yang dikutip Kamis (18/4/2024).

Ia mencatat, OJK akan terus melakukan pengawasan dan koordinasi untuk memastikan penyelenggara jasa pembayaran kedua bank tersebut memenuhi kewajibannya dengan selalu memperhatikan kepatuhannya terhadap ketentuan yang berlaku.

“Seperti diketahui, proses merger merupakan inisiatif kedua bank dan nantinya menjadi tanggung jawab mereka,” tambah Dian.

Tonton video di bawah ini: Ekstrak lebih banyak dolar ekspor, apakah pemerintah berhak melanggar aturan DHE? (mkh/mkh)

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours