Begini Nasib Tragis Pengungsi Myanmar Hadapai Gelombang Panas

Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang panas memperburuk penderitaan hidup di kamp pengungsi Myanmar, khususnya di perbukitan gersang di bagian timur Myanmar yang dilanda perang. Para pengungsi kini harus menunggu bantuan air untuk bertahan hidup.

Di bawah atap lembaran plastik di sebuah kamp di negara bagian Kaya, seorang warga bernama Augusta menunggu 10 galon air untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan mencuci keluarganya selama tiga hari ke depan.

“Tahun lalu kami mendapat air dari mata air terdekat,” kata Augusta kepada AFP.

“Tapi sekarang kami tidak bisa mendapatkan air dari tempat itu karena tidak ada air di sana. Kami harus berhemat… Kalau hari ini kami tidak mandi, mungkin besok kami bisa mencuci tangan dan muka.”

Kekurangan ini menyebabkan dia dan anak-anaknya seringkali tidak dapat mencuci atau membersihkan pakaian mereka dengan baik saat cuaca panas.

“Anak-anak gatal-gatal dan terlihat kotor dan kami tidak menyediakan pakaian bersih untuk mereka,” katanya.

Sekitar selusin penghuni kamp kini terlihat mengantri di truk untuk menerima bagian air untuk tiga atau empat hari.

Anak-anak terlihat membawa keranjang atau gerobak dorong membawa kontainer pulang, dan udara panas meniupkan debu dari jalan tanah.

“[Ketika] tempat ini hanya dihuni oleh orang-orang biasa, air sudah cukup,” kata Zay Yar Tun dari badan amal Clean Yangon. “Tetapi ketika para pengungsi melarikan diri ke sini, populasinya menjadi terlalu besar dan kami tidak dapat mengakses jumlah air di sini.”

Sumbangan air membuat tim Zay Yar Tun dan dua truk tetap beroperasi, mengirimkan air ke kamp dua kali seminggu.

Menemukan sungai atau mata air untuk mengisi truk bisa berbahaya di Kayah, yang merupakan salah satu titik perlawanan terhadap kekuasaan militer.

Militer secara teratur melancarkan serangan udara dan artileri terhadap musuh-musuhnya, dan ranjau darat selalu menjadi ancaman. Pada saat yang sama, pengiriman barang ke kamp juga sulit.

Karena pembatasan impor bahan bakar oleh militer ke Kayah, bahan bakar yang dibutuhkan tim untuk menjalankan truk dan pompa sangatlah mahal. “Bahan bakar sangat mahal dan sepertinya kita menukar bahan bakar dengan air,” katanya.

Menurut PBB, lebih dari 123.000 orang di Kaya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik akibat kudeta militer tahun 2021.

Kini gelombang panas telah menyebabkan suhu melonjak hingga 48 derajat Celcius di beberapa bagian Myanmar, membuat kehidupan di kamp-kamp pengungsi menjadi tidak menentu.

Tonton video di bawah ini: VIDEO: Perang Myanmar Memanas Hingga Mal Lumajang Terbakar (fsd/fsd)

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours