Dolar Rp 16 Ribuan, Lebih Cuan Beli Saham Indomie atau Mayora?

Jakarta, CNBC Indonesia – Saham-saham defensif di sektor konsumer kerap disebut-sebut sebagai saham yang diuntungkan saat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini disebabkan penjualan produknya ke luar negeri. Namun ingat, bukan berarti semua saham konsumen layak untuk dikoleksi.

Jika perusahaan menerima pendapatan dalam dolar AS, maka secara tidak langsung, jika dolar AS menguat terhadap rupee, maka pendapatan perusahaan pasti bisa meningkat.

Berbeda dengan perusahaan yang bahan baku produknya diperoleh dari luar negeri. Beban perusahaan karena harus melakukan impor bahan baku tentunya akan semakin bertambah dan hal ini akan menyebabkan menurunnya laba kotor perusahaan.

Namun, apakah emiten bisa diakui unggul hanya dari pendapatan dominan dolar AS? Agar Anda tidak salah memilih inventaris, sebaiknya perhatikan contoh kasus di bawah ini

Misalnya, untuk melihat saham-saham konsumen yang mendapat manfaat dari penguatan dolar AS, Anda dapat membandingkan penjualan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Kedua perusahaan tersebut memproduksi makanan dan minuman serta menjual produknya di dalam negeri dan internasional.

Dari data laporan tahun buku 2023 kedua produsen di atas terlihat bahwa MYOR menjadi produsen dengan penjualan ekspor lebih tinggi dibandingkan ICBP.

Dengan melemahnya rupee terhadap dolar AS, potensi keuntungan MYOR tentu lebih tinggi dibandingkan kedua kompetitornya. Sebab, 43% total penjualan MYOR merupakan ekspor. Lihat komponen biaya produksi

Meski sama-sama memproduksi makanan, mereka juga mengetahui asal bahan baku yang mereka gunakan.

Sebagaimana tercantum dalam laporan ICBP 2023, disebutkan juga adanya risiko pada harga bahan baku yang digunakan untuk membuat produk tersebut. Sebut saja tepung terigu, minyak goreng dan susu skim.

Data Trading Economics menunjukkan, harga gandum, bahan baku pembuatan tepung, akan naik sebesar 4,48% setiap bulannya pada Maret hingga April 2024.

Fluktuasi harga komoditas tentunya dapat mempengaruhi biaya produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kinerja suatu perusahaan. Untuk mewujudkan hal tersebut, ICBP harus melakukan penyesuaian harga jual produk secara berkala. Perhatikan pula nilai nominal utang jangka panjang

Setelah Anda memahami dengan baik penjualan perusahaan berdasarkan divisi regional, jangan mengabaikan utang jangka panjangnya.

Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir tahun 2023, ICBP memiliki utang obligasi jangka panjang berdenominasi USD sebesar Rp 42,12 triliun. Nilai tersebut mewakili 73,69% dari total liabilitas perseroan yang berjumlah Rp 57,16 triliun.

Sementara itu, sebagian besar utang bank jangka panjang MYOR sebesar Rp 1,7 triliun sebagian besar berbentuk rupiah dan hanya sebagian kecil dalam mata uang peso. Seluruh obligasi jangka panjang MYOR senilai Rp 1,8 triliun juga berdenominasi rupiah

Soal utang jangka panjang, jika rupee melemah, MYOR pasti akan lebih mudah mengelola beban utangnya dibandingkan ICBP.

Disclaimer: Artikel ini merupakan produk jurnalisme berupa pandangan Research & Financial Expert CNBC Indonesia. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembaca agar membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada di tangan pembaca, jadi kami tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan apa pun yang diakibatkan oleh keputusan ini.

Tonton video di bawah ini: Video: Simak! Saran investasi selama gejolak global tetap tinggi (aak/aak)

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours