Harga Saham Fluktuatif, Bos Astra (ASII) Beri Penjelasan Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Astra International Tbk (ASII) membuka perubahan harga saham yang sedang anjlok. Ketua Astra Djony Bunarto Tjondro menjelaskan, banyak faktor yang mempengaruhi harga saham. Dari kondisi perekonomian internasional dan domestik Beberapa faktor yang mempengaruhi emiten

“Kami menyadari tekanan terhadap harga saham Astra tidak lepas dari sentimen perekonomian internasional dan domestik,” ujarnya dalam konferensi pers video, Selasa (30/4).

Djony mengatakan dalam hal ini Astra sebagai perusahaan mobil melihat reaksi investor terhadap persaingan bisnis di bidang mobil listrik. Hal ini dinilai mengancam keberlangsungan bisnis.

“Kami melihat reaksi pasar akibat persaingan di sektor otomotif. Pesaing baru di baterai EV, khususnya China dan Korea. Ini menjadi ancaman bagi posisi Astra,” ujarnya.

Djony menegaskan, pihaknya tidak setuju dengan analisis tersebut. Itu tidak terlalu bagus. Dan hal ini membuat para pelaku pasar khawatir terhadap kelangsungan bisnis Astra.

Djony menyampaikan beberapa aspek mendasar yang dapat membuktikan kemampuan Astra dalam bertahan dari gempuran perkembangan bisnis yang dinamis. dan terbukti tangguh dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. lulus

Portofolio bisnis Astra mencerminkan pertumbuhan yang berkelanjutan, dengan CAGR lima tahun sebesar 9%, sementara PDB Indonesia lima tahun turun di bawah angka tersebut. Hal ini menunjukkan bisnis gabungan tersebut tumbuh di atas rata-rata perekonomian Indonesia, ujarnya.

Kinerja Astra juga didukung oleh fundamental yang kuat. tata kelola yang baik dan yang terpenting, neraca yang kuat. Apalagi jika dilihat dari sektor mobilnya sangat kecil dan seimbang. Saat ini pangsa pasar produk Astra masih berkisar antara 55-56%.

“Ini menunjukkan kekuatan produk Astra. Memang benar mobil listrik sudah mulai diadopsi oleh masyarakat Indonesia. Tentu ini yang menjadi fokus kami. Kalau dilihat secara berimbang, model hybridnya. masih menonjol di antara semua EV, katanya.

“Dalam data yang kami miliki sejak akhir tahun 2023 hingga tiga bulan pertama tahun ini, model hybrid masih menguasai 75% dari seluruh kendaraan listrik,” lanjutnya.

Djony juga menjelaskan Astra memiliki ekosistem yang kuat dan mendukung jaringan luas segala jenis produk. Mulai dari produk sektor otomotif hingga produk jasa keuangan dan kredit konsumsi kendaraan roda dua dan empat.

“Ini tidak bisa berdiri sendiri dalam penjualan mobil. Harus ada kesinambungan penjualan, pembiayaan, purna jual, dan penjualan kembali. Termasuk asuransi. Ini lingkungan yang utuh,” tutupnya (FSD/FSD).

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours