Kabar Terbaru Merger BTN Syariah dan Bank Muamalat

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Tabungan Negara (BBTN) mengomentari rencana merger Unit Usaha Syariah dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Presiden Direktur Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan informasi lebih lanjut mengenai aksi korporasi ini karena terlambatnya informasi dari Kantor Akuntan Publik (PAO). Faktanya, data diterima dengan penundaan dari tujuan semula.

“Belum siap, ada keterlambatan informasi yang kami terima. KAP-nya molor, jadi belum siap,” ujarnya dalam jumpa pers di Menara BTN, Kamis (25 April).

Nixon menemukan bahwa proses pengumpulan data memakan waktu paling lama untuk informasi terkait kredit. Oleh karena itu, perusahaan dapat mengambil keputusan hanya jika semua informasi yang diperlukan untuk pengukuran modal tersedia.

“Kami belum bisa mengambil keputusan karena datanya masih belum lengkap,” ujarnya.

Sebelumnya PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memberikan kabar terkini terkait uji tuntas atau uji kelayakan dengan BTN Syariah.

Diketahui, Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) BTN Syariah bakal melakukan penerbitan atau produksi sendiri. Dalam proses ini, BTN bertujuan menjadi “cangkang” untuk menjadi Bank Umum Syariah (BUS) Syariah.

Mantan Dirut dan Direktur BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan studi kelayakan akan selesai pada April 2024.

Muamalat Hayunaji, sekretaris perusahaan bank tersebut, mengatakan prosesnya sedang berlangsung. Ia juga belum bisa memastikan pengambilalihan bank yang sahamnya dikuasai Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) itu akan terjadi.

“Proses due diligence bisa kami sampaikan sedang berjalan,” kata Hayunaji saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (23/04/2024).

“Adapun langkah selanjutnya, kami akan mengikuti strategi dan arahan pemegang saham utama Bank Muamalat.”

Anggota Dewan BPKH Harry Alexander belum memastikan apakah kajian tersebut bisa selesai pada April dan masih dalam pembahasan internal. Ia kemudian menyebutkan bahwa ada “dinamika di Kongo” dalam pengambilalihan ini.

“Selain itu, kami masih berdiskusi, jadi kami hanya memantau saja. Kemarin sebenarnya ada dinamika serupa di DPRK. Kami hanya mengikuti semua yang terlibat,” kata Harry usai mini talkshow Bank Mega Syariah dan BPKH di Masjid Istiqlal, Rabu (03/04/2024).

Diberitakan sebelumnya, DPR menyoroti pengambilalihan Bank Muamalat yang dilakukan BTN Syariah dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Himpunan Bank-bank Negara (himbara) RI. Anggota Komisi VI DPR M. Husni menyoroti sejumlah persoalan di balik proses akuisisi terkait spin-off BTN Syariah.

Diberitakan sebelumnya, Nixon menjelaskan adanya empat properti dalam proses uji tuntas. Pertama, portofolio keuangan. Kedua, dalam konteks hukum yaitu kontrak dan perjanjian.

Ketiga, terkait teknologi perbankan dikatakan menghitung kemampuan teknologi. “Karena perbankan itu semua tentang teknologi,” kata Nixon pada Paparan Kinerja BTN 2023 di Menara BTN, Senin (2 Desember 2024) lalu.

Keempat terkait kesiapan SDM. Nixon mengatakan keempat hal ini adalah yang paling penting dalam proses tersebut.

Pihaknya belum bisa memberikan informasi mengenai nilai transaksi karena proses uji tuntasnya belum selesai.

“Kami berharap April selesai dan kami akan mengambil keputusan setelah membaca laporan uji tuntas pada April. Kalau ditanya struktur transaksinya dan berapa harganya, kami belum bisa menjawabnya. “Karena nanti aku akan terlalu dini.”

Simak video di bawah ini: Video: IHSG dan Rupiah Kembali Melemah, Dampak Sell-Off dan Exit di Bulan Mei? (fsd/fsd)

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours