Neraka Bolong di Tetangga RI, BMKG Buka-bukaan Nasib Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia – Beberapa negara tetangga Indonesia mengalami gelombang panas awal pekan ini. Misalnya, di Thailand, suhu maksimum tercatat hingga 52 °C.

Thailand mengeluarkan peringatan baru pada Kamis (25/4). Pihak berwenang setempat mengatakan bau tersebut telah menewaskan sedikitnya 30 orang tahun ini.

Awal April lalu, Manila, Filipina juga dilanda cuaca panas. Bahkan suhu di ibu kota mencapai 42 derajat.

Indeks Panas Manila, yang menyesuaikan kondisi suhu dengan mempertimbangkan kelembapan, telah ditetapkan pada tingkat “bahaya”.

Namun bagaimana nasib Indonesia? Badan Meteorologi, Meteorologi, dan Geofisika (IMG) melaporkan suhu maksimum di negara tersebut melebihi 36,5°C di beberapa wilayah.

Salah satunya terjadi pada 21 April di Medan, Sumatera Utara. Suhu maksimum mencapai 37.0 °C. Kemudian Saumlaki, Maluku dengan suhu maksimum 37,8°C.

Pada tanggal 23 April, suhu tertinggi di Palu, Sulawesi Tengah mencapai 36,8°C.

Guswanto, Wakil Ahli Meteorologi UNKNOG, menjelaskan fenomena suhu panas di Indonesia terjadi pada bulan April karena kedekatan posisi semu Matahari dengan garis Khatulistiwa.

Hal ini menyebabkan cuaca di beberapa wilayah Indonesia menjadi panas pada siang hari.

Fenomena suhu panas di Indonesia bukanlah gelombang panas karena mempunyai fenomena yang berbeda-beda. Cuaca panas di Indonesia disebabkan oleh faktor pemanasan permukaan yang disebabkan oleh siklus gerak Matahari yang terlihat dan dapat berulang setiap tahunnya.

Menurut HPG, sekitar 63% zona monsun diperkirakan akan mengalami awal musim kemarau. Saat ini, pertengahan April, beberapa wilayah masih basah dan diguyur hujan.

Di antaranya Luvu Utara (Sulawesi Selatan), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), dan Tanjung Perak Surabaya (Jawa Timur).

Guswanto mengatakan, PBB telah mengidentifikasi potensi peningkatan curah hujan yang signifikan pada minggu ini.

Lokasinya terutama di Sumatera, Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan dan Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Papua.

Curah hujan yang signifikan tidak lepas dari kontribusi Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Khatulistiwa Kelvin dan Rossby, serta kondisi suhu permukaan laut yang hangat di perairan sekitar Indonesia, kata Guswanto mengutip keterangan resmi. Senin (29/4/2024).

Ia mengatakan hal ini bisa meningkatkan perkembangan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Publik Andri Ramdhani menjelaskan, April merupakan masa peralihan musim hujan ke musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai dan mengantisipasi kejadian cuaca ekstrem seperti badai petir hebat, angin puting beliung, dan badai petir yang mungkin disertai kejadian beku dan curah hujan ekstrem dalam waktu singkat.

Salah satu ciri peralihan musim adalah jenis hujan yang biasanya berlangsung pada sore hingga malam hari, disusul cuaca panas dan lembab pada pagi hingga sore hari.

Hal ini terjadi ketika radiasi matahari yang diterima pada pagi dan sore hari cukup besar dan terjadi konveksi (pengangkatan massa udara) di atas daratan dan masuk ke atmosfer sehingga menyebabkan terbentuknya awan.

Karakteristik curah hujan pada masa transisi tidak merata, dengan intensitas pendek dan sedang hingga lebat. Jika kondisi atmosfer tidak stabil/tidak stabil, kemungkinan terjadinya awan konvektif seperti awan Cumulonimbus (CB) akan semakin besar.

Awan CB ini sangat erat kaitannya dengan petir, angin kencang, tornado, dan bahkan embun beku. Potensi konveksi lokal yang kuat terdapat di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga mendukung proses konvektif skala lokal selama dua hingga tiga hari ke depan.

Andri mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana, khususnya banjir, mengenali potensi bencana di lingkungan, khususnya di daerah rawan bencana, dan melakukan langkah-langkah sederhana. salah satunya adalah tidak membuang sampah secara hati-hati dan gotong royong menjaga kebersihan serta mengatur lingkungan. Tonton videonya di bawah ini: Video: Gila! Pencucian Uang Mata Uang Kripto (luar biasa/luar biasa)

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours